Tragedi KM Gandha Nusantara 17: Tujuh Penumpang Tewas Tenggelam di Perairan Maluku Utara, Penyebab Mesin Rusak dan Gelombang Tinggi

Ternate, 19 Maret 2026 — Tragedi maritim kembali menelan korban jiwa di wilayah Indonesia timur. Kapal penumpang KM Gandha Nusantara 17 tenggelam di perairan Maluku Utara pada Minggu sore, 15 Maret 2026, sekitar pukul 17.30 WITA, menewaskan tujuh penumpang. Tim SAR gabungan berhasil menemukan dan mengidentifikasi jenazah ketujuh korban tersebut hingga Selasa (17/3/2026), meski upaya evakuasi awal terkendala gelombang tinggi.

Kapal yang melayani rute Ternate menuju Pulau Morotai (atau variasi rute Bitung-Ternate-Maligano) ini mengalami kerusakan mesin di tengah laut, sehingga terombang-ambing diterjang gelombang setinggi 2,5–3 meter. Akibatnya, air masuk ke dalam lambung kapal, menyebabkan kemiringan hingga 20 derajat sebelum akhirnya tenggelam. Kru kapal sempat berupaya memperbaiki secara mandiri dan meminta bantuan SAR Ternate, bahkan KM Sabuk Nusantara 115 mencoba menarik kapal tersebut, namun gagal karena kondisi cuaca ekstrem.

Menurut data Basarnas dan KNKT yang sedang menyelidiki, kapal tersebut membawa puluhan penumpang dan awak. Tujuh korban tewas adalah mereka yang tidak sempat dievakuasi tepat waktu. Sisanya berhasil diselamatkan oleh kapal-kapal di sekitar lokasi kejadian dan tim SAR gabungan dari Basarnas Ternate, TNI AL, Polair, serta nelayan setempat.

Kepala Basarnas Maluku Utara menyatakan, “Insiden ini menjadi pengingat keras akan pentingnya pemeliharaan rutin kapal penumpang, terutama di wilayah perairan yang rawan cuaca buruk seperti Maluku. Kami terus melakukan pencarian terhadap kemungkinan korban tambahan meski laporan resmi menyatakan semua telah dievakuasi atau ditemukan.”

Insiden ini menambah daftar panjang kecelakaan maritim di Indonesia pada awal 2026, termasuk tenggelamnya kapal di Batam (Maret awal) dan kasus sebelumnya seperti KM Dharma Kartika IX di Balikpapan. Faktor umum yang sering muncul adalah overload muatan, kerusakan mesin, dan kurangnya perawatan armada kecil yang melayani rute pedalaman.

Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan dan KNKT berjanji akan memperketat pengawasan kelaikan kapal penumpang, terutama menjelang puncak arus mudik Lebaran 2026 yang sedang berlangsung. PT Pelni dan operator swasta juga diminta meningkatkan standar keselamatan, termasuk pelatihan kru dan pemeriksaan teknis rutin.

Sementara itu, untuk angkutan laut Lebaran, pemerintah menyiapkan 841 kapal dengan kapasitas 3,2 juta penumpang guna mendukung kelancaran mudik dan balik. Namun, tragedi seperti ini diharapkan menjadi momentum perbaikan sistem transportasi laut nasional agar tidak lagi memakan korban jiwa.

Pihak keluarga korban menyatakan akan menuntut pertanggungjawaban operator kapal. Investigasi KNKT diperkirakan rampung dalam beberapa bulan ke depan untuk menentukan penyebab pasti dan rekomendasi pencegahan.